Setitik Pesan dari “Negeri Kayangan” Dieng

 

Kuhentikan laju kendaraanku  di sebuah desa yang berada di barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.

Melepas lelah setelah kurang lebih 3 jam perjalanan untuk bisa sampai di sini (baik itu dari arah Semarang maupun dari arah Yogyakarta).

Hawa dingin menyambut kedatanganku. Kuedarkan pandangan menyapu hamparan “Negeri Kayangan” ini.

“NEGERI KAYANGAN” DIENG

Dengan topografi daerah pegunungan 2090 mdpl di atas permukaan laut, wajar saja jika suhu 6-10 °C di sore menjelang malam terasa menusuk tubuh. Membuat rasa malas bergerak mendera jiwa.

Jika sudah berada di Dieng, rasanya tak ingin lepas dari selimut dan jaket yang tebal.

Tapi hati ini sudah tak sabar lagi untuk bertemu dengan si Carica.

Ya, Siapa yang belum kenal dengan Carica? Sosok manis dan menyegarkan, asli dari kawasan Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah.

Tapi ingat! Untuk anda yang belum mengenalnya, jangan sampai berpikir Carica ini adalah nama orang ya.

Carica adalah nama tanaman (buah) khas Dieng.

Bentuknya seperti pepaya dengan versi mini, sekitar satu kepalan tangan saja.

Sumber foto Wikipedia

Menurut cerita, buah Carica ini telah di budidayakan sejak jaman Belanda. Dan saat ini olahan buah Carica sudah divariasi menjadi berbagai macam bentuk oleh para UMKM (home industry) setempat. Seperti keripik, selai, jus, sirup dan manisan.

Bahkan manisan Carica telah menjadi maskot dari Kota Wonosobo. Jadi bisa dikatakan, belum ke Dieng jika belum jatuh cinta dengan Carica.

MENYUSURI AREA PERTANIAN DAN PERKEBUNAN DIENG

Berbicara tentang pesona Carica, Dieng masih menyimpan banyak potensi hasil pertanian dan perkebunan lainnya. Dipengaruhi kondisi alam di dataran tinggi (yang berpengaruh pada intensitas curah hujan yang juga tinggi), Dieng sangat cocok untuk bercocok tanam sayur mayur dan buah-buahan.

Komoditas holticultura Dieng seperti kentang, wortel, cabe gemuk, daun bawang, bawang putih, kobis dan aneka sayuran lainnya tumbuh subur di sini. Begitu juga dengan buah-buahan seperti Carica, Melodi (Melon Dieng), Strawberry, dan masih banyak lagi.

Sektor pertanian dan perkebunan ini menyumbang nadi dalam mengalirkan perekonomian di Dieng.

KETIKA PESONA “NEGERI KAYANGAN” MEMBIUS DUNIA PARIWISATA

Seiring perkembangan jaman, pesona “Negeri Kayangan” Dieng mampu membius dunia pariwisata lokal maupun internasional.

Pemandangan alamnya yang mempesona, bersanding dengan peninggalan zaman purbakala yang menjadi Cagar Budaya menjadi perpaduan sempurna bagi wisatawan.

Lihat saja Candi Arjuna, Telaga Warna Pengilon, Kawah Sikidang, Sikunir, Gua Semar,Dieng Plateau Theater (Tempat pemutaran film tentang alam dan Budaya dataran tinggi Dieng dengan durasi 25 menit), Wana /Agro wisata petak 9, Golden Sunrise Gunung Prahu, Batu Kelir, Tuk Bimo Lukar, Wisata religi Makom syeh Ngabdullah Syelomanik dan Makom Manggolo Yudho, Makom orang Belanda dan masih banyak lagi pesona wisata Dieng. Bahkan misteri Anak berambut Gimbal yang menjadi legenda hidup semakin menambah keelokan dan keunikan pariwisata di Dieng.

Sumber foto: kompas.com

Dieng kini berkembang menjadi lokasi tujuan wisata yang sangat terkenal.

Penginapan atau home stay mulai bermunculan. Rumah makan, kios dan toko-toko menjamur.

Home industry menggeliat, menghasilkan aneka varian olahan makanan untuk oleh-oleh, souvenir, bahkan sampai ke jasa tour guide.

Ketika sektor pariwisata Dieng berdampak positif bagi masyarakat dan sekitarnya, maka sektor ini pun melengkapi nadi perekonomian Dieng.

Pariwisata sudah mampun menjadi pendongkrak perekonomian warga setempat.

MENEROPONG “NEGERI KAYANGAN” DIENG

DARI KACAMATA 3 P

Yaitu Perkebunan, Pertanian dan Perekonomian.

3 hal yang sangat berkaitan erat bagi perjalanan kehidupan warga masyarakat “Negeri Kayangan” Dieng.

Perekonomian yang terus bergerak didukung oleh kualitas dan kuantitas hasil perkebunan dan pertanian. Perekonomian yang berputar berkat adanya pengelolaan sektor pariwisata yang baik.

“Negeri Kayangan” ini menyimpan banyak warisan budaya yang harus tetap dilindungi dan dijaga.

Warisan budaya Dieng berupa cagar budaya maupun warisan budaya tak benda Dataran Tinggi Dieng (Tradisi Pemotongan Rambut Gimbal) harus tetap dilestarikan.

Pesan utama bagi para wisatawan “Negeri Kayangan”, hendaknya turut menjaga kondisi alam dan cagar budaya tersebut. Agar roda perekonomian dapat terus bergerak.

Menjadikan Dieng benar-benar bak Negeri Kayangan. Negeri yang membawa keindahan, kedamaian dan kebahagiaan di tengah ribuan pesona dan sejarah yang menyelimutinya.

Selamat Datang di “Negeri Kayangan” Dieng.

6 comments
3 likes
Prev post: LET’S READ: Rahasia Membaca Menyenangkan Bersama Buah Hati

Related posts

Comments

  • Dewi Adikara

    Oktober 8, 2020 at 10:10 am
    Reply

    MasyaAllah mbak Indah sekali ya Dieng, Dewi harus agendakan ke sana nih. Ada buah pula yang menggemaskan, namnya juga unik keliatan imut gitu […] Read MoreMasyaAllah mbak Indah sekali ya Dieng, Dewi harus agendakan ke sana nih. Ada buah pula yang menggemaskan, namnya juga unik keliatan imut gitu ya Carica, ternyata bentuknya memang imut:) Read Less

  • Damar Aisyah

    Oktober 8, 2020 at 9:28 am
    Reply

    Salah satu tempat yang sudah saya janjikan untuk dikunjungi bersama anak-anak. Nanti kalau memang kami punya rezeki singgah ke sana, kami sudah rencanakan tinggal di […] Read MoreSalah satu tempat yang sudah saya janjikan untuk dikunjungi bersama anak-anak. Nanti kalau memang kami punya rezeki singgah ke sana, kami sudah rencanakan tinggal di rumah petani Wonosobo untuk merasakan kearifan lokal. Dieng selalu memanggil untuk dikunjungi, dijejak tanahnya, dan dipuji panoramanya, Read Less

  • Yuni BS

    Oktober 8, 2020 at 6:33 am
    Reply

    Yuni sudah sejak lama pingin ke dieng. Kirain di sana kita cuma akan disuguhi sektor pariwisatanya saja. Ternyata sektor pertanian/perkebunannya juga menarik. Apalagi carica dan […] Read MoreYuni sudah sejak lama pingin ke dieng. Kirain di sana kita cuma akan disuguhi sektor pariwisatanya saja. Ternyata sektor pertanian/perkebunannya juga menarik. Apalagi carica dan melodi. Jadi semakin ingin main ke sana dah. Mencoba segala buah yang ada. Menyenangkan pasti ya, bunda. Read Less

  • Melina Sekarsari

    Oktober 7, 2020 at 6:11 pm
    Reply

    Pertama kali makan carica, aku langsung jatuh cinta. Dulu sih makan manisannya. Waktu itu ke Wonosobo dan pulangnya dibawakan dua kotak carica. Mantep! Ketagihan, eh […] Read MorePertama kali makan carica, aku langsung jatuh cinta. Dulu sih makan manisannya. Waktu itu ke Wonosobo dan pulangnya dibawakan dua kotak carica. Mantep! Ketagihan, eh minta dikirimi lagi dong, hahaha ... Kecantikan Dieng ini mampu membius banyak orang untuk datang ya, Bun. Padahal dari sisi lokasi, nggak ada stasiun maupun bandara yang dekat dengan kota ini. Memang sih, lebih cocok disambangi melalui jalur darat alias kendaraan pribadi saja. Read Less

  • Rina

    Oktober 7, 2020 at 10:41 am
    Reply

    Saya pingin sekali ke Dieng, tapi belum kesampaian juga. Setiap ada rencana ke sana selalu saja gagal, pingin merasakan hawa dinginnya, juga mie ongklok yang […] Read MoreSaya pingin sekali ke Dieng, tapi belum kesampaian juga. Setiap ada rencana ke sana selalu saja gagal, pingin merasakan hawa dinginnya, juga mie ongklok yang katanya enak itu Read Less

    • bundastory
      to Rina

      Oktober 7, 2020 at 1:55 pm
      Reply

      Iya mba. Dieng udah cantik banget ya sekarang. Yuk kita ke Dieng pas pandemi usai:)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *