KIRIM CINTA DARI RUMAH

Tanggal 19 Maret 2020

Saat itu, Covid-19 sudah mulai masuk di daerah kami. Berita-berita tentang wabah Covid-19 pun sudah merajalela memenuhi halaman obrolan whatssapp dan media sosial.

Mungkin, karena terlalu semangat ingin berbagi informasi kebaikan, beberapa orang melupakan aturan “saring sebelum sharing.“ Hingga berita yang benar maupun yang hoax semua berbaur menjadi satu.

Tapi ada satu pesan whatssapp yang membuat hati ini bergetar saat membacanya.

Air matapun luruh.  Pesan ini dikirimkan oleh kakak kandung saya ke group whatsapp keluarga. Beliau adalah salah satu tenaga kesehatan di sebuah Rumah Sakit rujukan pemerintah untuk penanganan Covid-19.

Dan beliau meminta keridhoan kami untuk isolasi mandiri selama menjalankan tugas ini. Terpaksa ketiga putri cantiknya harus tinggal terpisah demi kebaikan bersama. Itu artinya, kami tak tahu kapan bisa bertemu beliau lagi meski berada di kota yang sama.

Jika hati kami saja rapuh menghadapi ini semua, bagaimana dengan anak-anak beliau? Terlebih si bungsu yang masih kelas 1 SD. Yang sehari-dua hari masih bisa menahan rindunya. Tapi di hari-hari berikutnya sudah mulai merindu sejadi-jadinya. Yang hanya bisa melihat wajah mamanya dari layar gawai. Yang hanya bisa menerima bingkisan susu dan snack di pagi hari tanpa bertemu dengan si pengirimnya?

Ya, mamanya selalu menggantungkan sedikit “buah tangan” untuk anak-anaknya di depan pagar rumah eyang. Tanpa bisa saling bertemu langsung.

Terbayangkah bagaimana jika kondisi ini kita yang mengalami?

Bersyukurlah bagi kita yang diberi kesempatan untuk berkumpul bersama seluruh anggota keluarga karena anjuran #dirumahaja, #workfromhome dan #schoolfromhome. Masih bisa makan bersama, bercanda bersama dan menghabiskan waktu bersama, di sela-sela kesibukannya masing-masing di dalam rumah. Masih bisa memastikan bahwa diri kita dan seluruh anggota keluarga selalu dalam keadaan sehat dan aman.

Tapi bagaimana bagi para tenaga kesehatan dan pihak-pihak yang memang betul-betul harus turun ke lapangan? Ini adalah perjuangan besar bagi mereka dan seluruh anggota keluarganya. Mereka harus menjalani hidup yang terpisah sementara waktu. Menjaga kesehatannya masing-masing. Semua demi kebaikan bersama.

KEBAIKAN APA YANG BISA KITA LAKUKAN DARI RUMAH?

Istilah kaum rebahan pun menjadi sangat populer. Tapi yakin kita bisa melalui kondisi seperti ini hanya dengan rebahan saja? Yakin gak bakal bosan kalau disuruh rebahan terus?

Lalu, bagaimana dengan mereka yang kemudian tak lagi mempunyai penghasilan karena harus di rumah saja? Sedangkan kebutuhan hidup sehari-hari tetap harus dicukupi.

“Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan.”

(QS. Al-Baqarah [2] : 148)

Membaca ayat ini membuat saya sadar bahwa saya tidak boleh terlena dengan keadaan. Justru inilah ladang amal bagi kita untuk berbuat kebaikan. Saatnya move on.

Update informasi saat itu adalah mengenai kelangkaan Alat Pelindung Diri (APD) bagi para tenaga kesehatan. Mulai dari harga masker yang menjulang tinggi dan susah didapatkan, baju hazmat, face shield dan beberapa perlengkapan lainnya. Rumah Sakit tempat kakak saya bertugas pun menginformasikan bahwa mereka menerima donasi APD karena masih membutuhkan.

Saya tiba-tiba mendapat ide untuk melakukan gerakan bersama. Saya sadar, saya bukanlah seorang yang dikenal, bukanlah artis apalagi selebgram. Saya hanyalah seorang ibu rumah tangga yang sangat ingin badai Covid 19 ini cepat berlalu. Jika saya bergerak sendiri, tentu bantuan saya sangat terbatas. Maka saya punya keyakinan, jika ada yang mau bergandengan tangan  tentu semuanya akan jauh lebih bermanfaat.

Alhamdulillah wa syukurillah, ide kegiatan ini disambut baik orang-orang terdekat saya. Saya sebut ini dengan #KirimCintaDariRumah. Mulai dari kakak, adik dan orang tua. Lalu menyebarkannya ke beberapa teman dekat. Ada beberapa teman dari luar kota yang turut berdonasi. Bahkan ada sahabat dunia maya yang belum pernah saya temui secara langsung, turut bergabung dalam kegiatan ini. Donasi yang terkumpul dalam waktu hanya satu mingguan mencapai Rp 6.105.000,- Angka ini cukup besar bagi seorang ibu rumahan seperti saya.

Dari rumah pula saya mencoba menghubungi teman yang bisa menyediakan keperluan APD sesuai dana yang kami miliki. Saya bahkan tak perlu pergi meninggalkan rumah untuk hunting dan berbelanja. Sungguh semua seperti dimudahkan jalannya oleh Allah Swt. Hingga terkumpullah barang-barang yang akan kami sumbangkan atas nama bersama ini dalam waktu yang cukup cepat.

Mungkin bagi sebagian orang hal ini bukanlah suatu hal yang wow.

Tapi bagi saya, ini adalah sebuah kekuatan tersendiri untuk terus melakukan kebaikan. Bahkan di saat kita tak punya uang sepeserpun, sebenarnya tetap ada kesempatan untuk melakukan kebaikan.

Mari sebar kebaikan

Teman-teman juga bisa lho berbuat kebaikan bagi sesama meski hanya dari rumah. Apalagi sekarang kita telah sampai di penghujung Ramadan yang penuh berkah. Tentunya Allah akan mempermudah setiap niatan baik kita.

Abu Hurairah r.a berkata:

“Seorang laki-laki mendatangi Nabi Saw dan berkata, “Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling besar pahalanya? Beliau berkata,’Kamu bersedekah ketika kamu dalam keadaan sehat, pelit, takut miskin, dan ingin kaya. Janganlah kamu menunda-nunda, sampai ketika (nyawa) sampai ke tenggorokan kamu baru berkata ‘Untuk Fulan sekian dan untuk Fulan sekian,”

(HR Bukhari dan Muslim)

Alhamdulillah saat ini kita masih diberi nikmat sehat. Maka bersegeralah berbuat kebaikan. Berbuat kebaikan juga tidak melulu harus dengan mengeluarkan uang kok. Tetap menyambung silaturahim meski tak dapat berjumpa langsung itu juga sebuah kebaikan. Membantu pelaksanaan suatu acara sosial juga sebuah kebaikan. Menebarkan salam, menyampaikan ilmu meski sedikit itu adalah kebaikan.

Di Ramadan ini saya juga mengajak kakak kedua saya untuk membuat masker kain. Kebetulan kakak kedua saya ini memiliki kemampuan menjahit yang baru menggunakan kemampuannya sebatas keperluan pribadi saja. Alhamdulillah responnya cukup baik. Beberapa juga ada yang kami berikan untuk keluarga dan teman-teman dekat sebagai bingkisan lebaran.


Selain menebar kebaikan dengan melakukan suatu yang produktif, jangan lupa tetap mengisi Ramadan dengan kegiatan yang positif. Dari rumah saja, kita bisa mengikuti banyak kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa Sulsel untuk menyemarakkan Ramadan 1441 H di tengah pandemi Covid-19. Mereka menggelar program “Ramadan Virtual Festival”. Agenda kegiatannya antara lain adalah kajian online, ngabubookread, kelas tahsin, sedekah dongeng dan masih banyak lagi. Pokoknya seru deh. Ikuti saja Instagram @ddsulsel dan @ramadanvirfesthttps://instagram.com/ramadanvirfest di instagram untuk info selengkapnya ya.

Nah kan, ayo keluarkan potensi diri untuk bisa berbuat kebaikan kepada sesama. Terlebih di masa-masa pandemi ini, selain bantuan materi, banyak juga yang membutuhkan suntikan semangat juga.

Be creative from home ya.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition “Ceritaku Dari Rumah” yang diselenggarakan oleh Ramadan Virtual Festival dari dompet Dhuafa Sulawesi Selatan”

blog competition

0 comments
1 like
Prev post: Indscript Creative: Bukti Nyata Perempuan Indonesia Bisa Sukses Dari Rumah

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *